Emosi merupakan factor dalam diri manusia yang tidak bisa ditiadakan peranan, unsur didalam diri manusia, ketika di tata dan dikelola dengan jiwa yang Mutmainnah maka akan menjadi pemompa nafas kehidupan yang baru berupa semangat, tekun, sabar dll. namun Ketika emosi tidak di atur dengan baik, di organisir dngan benar, maka emosi menjadi sesuatu yang mengarah dan memiliki konotasi negative marah, benci iri, dendam dll.  

Diantara emosi yang seringkali terjadi Adalah marah, imam abu zaid al Balkhi didalam kitabnya masholih abdan wal anfus menyinggung soft terapi yang bisa dilakukan oleh orang yang marah diantaranya adalah

Pertama Terima dan Siap kan berbagai kemungkinan baik kemungkinan yang menyenangkan membahagiakan dan kemungkinan yang mengecewakan, menyedihkan, bahwa ketika hanya siap salah satu maka ia akan tidak siap dengan kemungkinan yang lain. Ketika kita hanya siap dan membayangkan hal hal yang menyenangkan saja maka akan terkaget, terkejut dan tidak siap Ketika kita menghadapi hal tidak menyenangkan itu hadir dalam kehidupan kita, sehingga mengatur perasaan agar tidak berlebihan didalam mencintai, tidak terlalu terbawa perasaan suka yang berlebihan, harapan yang terlalu besar pada seseorang maupun moment dalam hidup akan membawa pada ketejagaan dan kesiapsiagaan kita pada hal yang mengecewakan, menyedihkan.

Kedua Kemarahan akan muncul ketika ada yang berbeda atau tidak sejalan dengan apa yang kita inginkan dan pikirkan, maka jalan yang berbeda yang Harus dilakukan agar kemarahan tidak memuncak dan naik pitam adalah mencoba memahami sudut pandang atau posisi yang yang berbeda yang tidak sejalan dengan apa yang kita pikirkan

Bahwa setiap apa yang di anggap benar oleh masing masing orang tentu adalah pemahaman atau pengalaman yang telah di alami dengan proses  masing masing, sehingga ketika kita mencoba memahami kebenaran orang lain maka kita bisa lebih punya prespektif yang lebih luas dan kedewasaan yang lebih tinggi tentu akan membuat tensi amarah akan semakin sempit menyusut dan menurun

Begitu pun semakin kita merasa bahwa apa yang kita fikirkan dan lakukan paling benar maka disitulah salah sebab pada dasarnya tidak ada yang paling benar yang paling benar hanya yang maha benar,  manusia hanya menganggap benar apa yang menjadi sudut pandangnya dan persepsinya semata. Sama halnya ketika Ujian murid tidak bisa memastikan jawaban yang dijawab benar sampai sang pemberi soal telah menilai benar, sehingga kebenaran yang kita anggap benar bukan lah kebenaran akan tetapi semoga menjadi sebuah kebenaran yang dianggap benar, Karena bisa jadi kebenaran yang kita yakini hari ini adalah kesalahan yang belum kita ketahui dan mengerti.

Yang ketiga Adalah senantiasa melakukan, memikirkan, sesuatu yang membuat jiwa, pikiran dan perasaan menjadi tenang, dalam konsepsi agama membawa pada sesuatu yang tenang Adalah berdzikir

 الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram

Ataupun ibadah ibadah lain seperti sholat Surat At-Taubah ayat 103, yaitu “inna shalâtaka sakanul lahum” (اِنَّ صَلٰوتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ)  Artinya:
“Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka

Dan tentu hal mendasar baik dzikir atau ibadah muara dan outputnya Adalah sejauh apa dan sedalam apa keterkaitan dan kekuaatan batin kepada sang maha, tentu semakin kuat dan semakin dalam hubungan akan semakin memberi penenang jiwa dan hati manusianya.

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَّعَ إِيمَانِهِمْ

Artinya:
“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan ke atas keimanan mereka (yang telah ada).”

Comments are disabled.