Pendahuluan
Hari ini, 46 tahun yang lalu, lahir seorang bayi laki-laki yang tidak mengekor nama besar dibelakangnya, arsip biologis (nasab) dari sepasang suami istri yang hanya berprofesi sebagai petani, yaitu H Sholeh dan Hj sari. Namun, berkat tarbiyahnya, seperti halnya tangan yang mencangkul, keringat yang menetes untuk menanam, tumbuh benih yang membawa berkah-maslahah.

Cinta dan doa untuk 46 tahun orang tuaku dari seorang anak ideologis, anak spiritual, maupun anak asuh.

Jika cinta bisa ditaksir lewat untaian doa, mungkin rasanya akan kalah dari doa burung peliharaan yang tidak memiliki dosa.
Jika cinta bisa dilihat dari ketaatan ataupun khidmat, rasanya wajah ini masih dipupuri “tholabul wajhi” yang sangat melekat.
Jika cinta bisa diukur dengan kedekatan, pantaskah diri ini yang hanya sibuk mencari pengakuan.
Bahkan, jika bentuk cinta ini lebih besar, maka tidak akan ada perasaan malu bertemu saat diri penuh dosa.

Kita tidak merayakan milad beliau seperti merayakan ulang tahun tokoh atau pemimpin lainnya. Kita tidak sekedar mengenang kelahiran, tetapi menyelami ruh dan hikmah dari setiap perjalanan kehilangan, mengarungi lauful Mahfudz untuk mempelajari takdir atas apa yang Allah berikan, pengembaraan batiniah beliau menemukan guru sejati – akan hakikat ajaran. Sebab, kelahiran itu sendiri bukan apa-apa jika tidak diikuti dengan perjalanan bermakna.

A. Cahaya diujung lelah : Perjalanan panjang menemukan pemahat jiwa
Jebakan cahaya yang padam
Di awal usia dewasa, beliau pernah menjadi seorang musafir yang berjalan dari kota Jombang ke kota nganjuk untuk menemukan guru sejati, syarat mutlak yang diberikan oleh seorang guru tersebut adalah dalam perjalanan hanya diperkenankan jalan kaki. Sebuah perjalanan yang bukan hanya perpindahan raga, melainkan ikhtiar batin seorang musafir yang menginginkan bimbingan guru sejati. akan tetapi, dalam perjalanan kembali sandal yang beliau pakai putus dan akhirnya beliau memutuskan naik bus untuk tau apakah seseorang yang memberi perintah itu tau apakah beliau menjalankan sesuai syarat yang diberikan. Saat sampai, syarat mutlak tersebut dijalankan atau tidak, tidak benar-benar diketahui. Pada akhirnya ketidaktahuan itu menjadi titik cahaya baru untuk melanjutkan petualangan spiritual selanjutnya.
Pertemuan yang tidak salah alamat
Terkadang takdir terjadi sesuai dengan apa yang diusahakan dan diiingkan, dan seringkali takdir terjadi pada sesuatu yang tidak kita pahami. Singkat cerita, saat beliau memutuskan untuk masuk di perguruan tinggi beliau dipertemukan dengan magnet ruhani sejati yaitu yai Syafi’, apa yang beliau cari selama ini mempertemukan pada hati yang tenang pada frekuensi yang sama saat pertama kali bertemu.

B. Pemimpin informal
Pemimpin informal adalah pemimpin yang mengerjakan banyak hal untuk kemaslahatan umat. Di satu sisi beliau dijadikan rujukan tempat orang bertanya tentang masalah syariat agama, moral maupun filsafat hidup. Di lain sisi beliau juga menjadi psikiater bagi seseorang yang bertanya perihal kejiwaan, menjadi konsultan yang ahli dalam obat-obatan, berupa sakit fisik, psikis, maupun mistis, bagi mereka yang ditimpah ujian. Meskipun tidak pernah mengenyam di fakultas kedokteran, jawaban yang terlontar merupakan intuisi yang dibisikkan tuhan lewat pantulan hati yang bersih-bersinar.

C. Merakyat dengan kerendahan hati
Seperti lazim dilihat orang ketika ada seorang ustad, kyai, atau habib yang diundang di suatu acara pastinya beliau duduk di tempat yang disediakan secara terhormat. Tapi tidak dengan beliau, ketika diundang mauidhoh Hasanah pada perpisahan sekolah SMP nya dulu, beliau memilih untuk duduk di bawah sejajar dengan guru dan lainnya. Terulang lagi saat acara pelantikan pengurus, dimana beliau disediakan tempat duduk dari spon layaknya habib ketika menyuarakan suara merdunya. Respon beliau malah memilih untuk duduk di terpal bersama pengurus dan santri lainnya. Maka, jika beliau saja seorang guru mempunyai sifat rendah hati. Menjadi seyogianya seorang murid mempunyai karakter seperti beliau. layaknya habib ketika menyuarakan suara merdunya. Respon beliau malah memilih untuk duduk di terpal bersama pengurus dan santri lainnya. Maka, jika beliau saja seorang guru mempunyai sifat rendah hati. Menjadi seyogianya seorang murid mempunyai karakter seperti beliau. layaknya air, yang tidak bisa mengalir ke tempat yang lebih tinggi itulah analogi tawadhu’.

D. Melekatnya sifat reaktif dan kesadaran aktif
Beliau merupakan sosok manusia, pemimpin dan orang tua yang mempunyai kelebihan tidak cukup hanya baik hati, tetapi juga inisiatif. Aktif mengidentifikasi persoalan di sekitarnya, dan sigap memberi solusi sebelum orang yang berada di lingkarannya bertanya atau merasa putus asa. Perihal itu pernah saya rasakan dimana saat batin ini goyah, atensi beliau besar menanyakan.
“Cakot tak rasani mas, Maqam e smean kok mudun”. Peka dan mempunyai atensi terhadap perkembangan batin santrinya inilah yang mungkin tidak dimiliki oleh lazimnya kyai – guru.

E. Langkah panjang dalam membaca tantangan dan menyambut peluang
Yai Wawan melihat masa depan Bustanul Hikmah dengan penuh optimisme. Perkembangan sekaligus peningkatan kualitas dari beberapa lini tidak lepas dari gaya kepemimpinan yang beliau terapkan sebagai pengasuh sekaligus ketua yayasan. Ada kesan menarik dalam kepemimpinan beliau, dimana beliau selalu melibatkan elemen yang ada di Bustanul Hikmah dalam proses problem – solving. Semisal kalau diperhatikan ketika beliau menyambangi pondok atau sekolah, yang mana ada unek² fikiran beliau tentang hal baru,  pastinya orang yang berada didekatnya diberitahu dan dimintai pendapat. Itulah pemimpin yang tidak hanya visioner dalam pandangannya tapi pemimpin yang peka keadaan aktual, harmonis dengan bawahannya. Salah satu tujuan utama beliau adalah sangat menginginkan Bustanul Hikmah bisa mencetak embrio ulama-ulama Allah.

itulah Dr. KH. Darmawan M.Hi, seorang kekasih, kiai, pemimpin, praktisi tasawuf, penceramah, manusia.

Penutup
Jika bima menjumpai kesejatian diri saat bertemu Dewaruci, jika nabi Musa mengenal dirinya saat mendampingi nabi Khidir, jika brandal lokajaya menjadi sunan Kalijaga saat madep-mantep atas titah ruhaniah sunan Bonang, Jika yai Wawan menemukan potensi ruhaniahnya atas didikan yai Syafi’, maka, diri ini, kita, amat sangat beruntung bertemu dengan yai wawan-yai syafi’ yang mau membimbing kita menjadi lebih baik menemukan jalannya masing-masing.

Disadari atau mungkin sadar tapi acuh jika,
3 panggilan tak dijawab, 2 notifikasi terabaikan. Itu bukan tentang agama. Melainkan, ketika kopi yang engkau pesan baru saja tiba, rokok yang masih menyala sempurna. Tapi engkau memilih untuk melanjutkannya, bukan untuk memenuhi panggilannya (guru)

Jadi, sudahkah diri ini tidak mengecewakan beliau ? Semoga Kulo kale sampean diakui dados santri-ikhwan beliau.
Wallahu A’lam Bisshawab.

Comments are disabled.